PANGLIMA PERJUANGAN BMI DARI BLITAR

Advertisements

Haruskah Menjaga Nasionalisme?

Haruskah Menjaga Nasionalisme?

 

Sebagai warga Negara yang jauh dari pertiwi, kadang banyak yang berfikir, masih dianggapkah aku sebagai putra bangsa. Yang pemerintahku sendiri telah tidak memberi penghidupan yang layak bagiku, kesejahteraan bagiku? Pantaskah aku untuk tetap menasionalisme kan diriku, menjunjung tinggi adat dan budaya bangsaku yang telah dirusak tangan-tangan kotor pejabat yang haus akan kekuasaan dan kekayaan.

 

Tari Baliku telah dirampas, batikku telah juga hampir melayang ke tangan Malaysia, pulau Andalat bukan lagi milik Indonesia, mungkin pulau Kalimantan pun lama kelamaan akan menjadi hak milik negara tetangga. Tapi Bapak presiden tetap hormat pada Negara yang telah menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia .Dengan tanpa ampun banyak majikan Malaysia menyiksa para pembantunya yang berasal dari Indonesia.

 

Sebagai negeri yang kaya raya, limpahan sumber daya alam dan sumber daya manusia ternyata malah membuat negeri kita semakin terpuruk. Beban hutang pada bank dunia yang kian menumpuk, hanya salah satu dari rentetan beban bangsa Indonesia.

 

Untuk menyelamatkan diri dan keluarga  dari sekian gugusan masalah ekonomi, begitu banyak putri Indonesia  “lari” ke luar negeri sebagai BMI menjadi pembantu! Berbagai adat dan budaya yang sama sekali berbeda pun harus dihadapi. Apalagi cibiran masyarakat luar negeri tentang Indonesia. Masyarakat Hong Kong (contohnya) lebih menganggap BMI lebih bodoh . Bisa digaji lebih rendah. Karena mereka merasa pemerintah Indonesia pun tidak akan maksimal membantu BMI yang bermasalah.

 

Indonesia adalah negara yang miskin dan bodoh, menurut pandangan masyarakat luar negeri pada umumnya. Ribuan sarjana di Indonesia belum bisa memperbaiki anggapan tersebut. Sebagai BMI kita telah berupaya agar anggapan itu bisa dihentikan. Berbagai kegiatan positif digelar di setiap hari minggu. Agar masyarakat Hong Kong menyadari para BMI bukan hanya pembantu yang hanya bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi juga membawa nama baik sebuah bangsa.

 

 Jika kita tengok, sebuah event perlombaan yang sering diadakan, adalah upaya untuk mengapresiasikan bakat dan kemampuan para BMI selain menyandang sebagai pembantu. Mereka adalah duta-duta budaya tanpa tanda jasa, tanpa perintah dari pemerintah, tanpa gaji, tapi mereka dengan sudi dan bangga mengenalkan budaya Indonesia. Bahkan pihak KJRI kadang tidak ada waktu atau enggan menghadiri event-event seperti ini.

 

Budaya korupsi yang ada di Indonesia, juga membuat Indonesia semakin terkenal dimata dunia. Dan kita sebagai BMI kadang juga kena imbasnya. Tidak jarang percakapan basa-basi antara BMI dengan sopir taxi, atau dengan tukang potong rambut, objek pembicaraan yang diambil tentang korupsi di Indonesia.

Beginilah nasib para BMI yang kadang merasa malu melihat cara kerja pemerintah Indonesia.

 

Anggota DPR yang digaji dengan keringat rakyat Indonesia, malah tidur disaat rapat. Bahkan disaat Bapak Presiden Susilo Bambang Hudoyono menyampaikan laporan Nota Keuangan RAPBN ! Sebuah laporan keuangan yang menyangkut dan berpengaruh terhadap laju perkonomian negara selama satu tahun, diacuhkan saja dengan tidur. Laporan Bapak Presiden mungkin hanya dianggap sebagai symbol formalitas belaka, hingga bapak Anggota Dewan “boleh” tidur saat rapat berlangsung.

 

Perkembangan teknologi yang membuat Indonesia lebih “maju” dalam komukasi dan tehnologi, juga membuat anggota DPR lebih “canggih”, hingga Bapak Dewan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Arifinto bisa menonton video porno melalui komputer tabletnya saat sidang Paripurna.

 

Dan para anggota Dewan tidak pernah malu pada rakyat Indonesia dengan semua tindakan yang sangat memalukan bangsa tersebut. Bahkan DPR masih dengan bangga akan membangun gedung DPR baru dengan biaya hampir 1,6 triliyun! Mereka meminta dalam gedung DPR baru nanti terdapat banyak fasilitas yang akan menunjang kinerja para Dewan. Dalam gedung baru nanti akan tersedia kolam renang,spa,pijat dan gym. Sebelum tersedia fasilitas – fasilitas ini anggota DPR sudah tidur dan menonton video porno di saat rapat dan sidang, apalagi setelah tersedia fasilitas-fasilitas ini, bisa-bisa banyak yang absen untuk menghadiri rapat dan sidang.

 

Apakah para anggota DPR tidak berfikir, atau malah tidak mau memikirkan bahwa masih banyak, ribuan rakyat Indonesia  masih tidur di kolong jembatan , hanya mampu hidup dalam rumah kardus. Biaya pendidikan yang mencekik leher, biaya pengobatan yang sangat mahal, membuat rakyat Indonesia makin terpuruk.

 

Pemerintah lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bangsa, dan inilah yang membuat Indonesia semakin ambruk. Padahal sebelum duduk dan menjabat sebagai anggota dewan, semua fraksi memberikan janji muluk pada rakyat ,mereka akan memberi, berbuat dan melakukan yang terbaik sebagai wakil rakyat agar Indonesia lebih baik. Mengadakan kampanye besar-besaran untuk menarik simpati dan suara terbanyak. Hingga ada Calon Legislatif yang sengaja datang ke Hong Kong untuk mendapatkan suara dari BMI. Karena jumlah BMI yang mencapai 130.000 adalah jumlah angka suara yang sangat membantu dalam mendapatkan kursi. Waktu itu, bapak Caleg datang ke kampung Jawa Victory dengan membagi-bagikan kaos berkain tipis untuk menarik simpati BMI. Beliau juga berjanji akan lebih memperhatikan, melindungi dan mendengar suara BMI jika menjabat nanti. Tapi itu hanya janji, sampai saat ini, keadaan BMI masih sangat jauh dilindungi oleh pemerintah.  

 

  

Bahkan artis senior yang pernah popular di era 80 an, Pong Harjatmo sempat mencorat coret atap gedung DPR dengan tulisan, JUJUR,ADIL,TEGAS. Pong sudah sering kali menyindir dan menegur pemerintah lewat acara di televisi, tetapi tidak ada satupun yang didengar, hingga Pong melakukan aksi mencorat – coret atap gedung DPR.

Kasus korupsi,Lapindo,Gayus,bank Century,Melinda membuat rakyat semakin ragu dengan kemampuan pemerintah.

 

Sekarang , dibandara  Indonesia  lebih  rawan jika membawa  barang elektronik dari luar negeri. Harga barang yang mencapai lebih dari US $ 250 akan dikenai pajak. Padahal  barang-barang elektronik milikku, juga milik kawan-kawanku seharga lebih dari US $ 250.

Akupun semakin takut pulang ke negeriku, ke tanah kelahiranku, pemerintah negeriku belum bisa melindungiku. Malah aparatnya akan merampas barang-barang milikku.

 

 

 

 

*** Pernah dimuat di rubrik opini, Berita Indonesia.